Pengamat Lingkungan Soroti Kondisi Sempadan Sungai di Samarinda
SAMARINDA — Kondisi sempadan sungai di Samarinda dinilai masih memerlukan perhatian serius. Penanganan persoalan lingkungan di kawasan daerah aliran sungai (DAS) disebut belum berjalan menyeluruh dan membutuhkan kolaborasi lintas daerah di Kalimantan Timur.
Pandangan tersebut disampaikan pengamat lingkungan, Thomas Robert Hutauruk, dalam forum diskusi pembentukan forum peduli lingkungan yang diinisiasi Anggota Komisi III DPRD Kota Samarinda, Jumat malam (1/5/2026).
Menurut Thomas, penanganan pemerintah terhadap kawasan sungai sejauh ini memang sudah berjalan di beberapa titik, termasuk di kawasan Sungai Karang Mumus. Namun, upaya tersebut dinilai belum menjangkau seluruh daerah aliran sungai yang ada di Samarinda.
Ia menyebut masih terdapat sejumlah DAS yang memerlukan perhatian dalam aspek penataan kawasan maupun pengendalian aktivitas di sekitar sempadan sungai.
Thomas menilai persoalan tersebut dipengaruhi oleh pembangunan yang tidak tertata serta aktivitas masyarakat yang mulai memasuki area sempadan sungai. Kondisi itu, menurutnya, berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem dan memperbesar risiko lingkungan di masa mendatang.
Karena itu, ia mendorong pentingnya penegasan garis sempadan sungai sebagai batas antara kawasan ekosistem alami dan aktivitas permukiman masyarakat.
“Perlu ada batas yang jelas agar aktivitas manusia dan kelestarian lingkungan bisa berjalan seimbang,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Thomas juga mengapresiasi langkah DPRD Kota Samarinda yang mulai melibatkan masyarakat dan komunitas muda dalam pembahasan isu lingkungan hidup.
Menurutnya, forum tersebut dapat menjadi ruang penyaluran aspirasi masyarakat sekaligus sarana penguatan kebijakan lingkungan berbasis partisipasi publik.
Ia menyebut proses penghimpunan masukan masyarakat terkait penyusunan regulasi lingkungan masih akan terus berlangsung hingga beberapa bulan ke depan sebelum masuk pada tahap penyusunan rancangan aturan. Selain itu, Thomas menegaskan persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan secara parsial oleh satu daerah saja. Ia menilai diperlukan sinergi antardaerah di Kalimantan Timur mengingat kondisi lingkungan dan aliran sungai
saling berkaitan satu sama lain.
Ia juga mengingatkan risiko bencana di Samarinda masih berada pada kategori sedang dan berpotensi meningkat apabila tidak diiringi penanganan lingkungan yang terintegrasi. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat, akademisi, dan komunitas dinilai menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus menekan potensi bencana di masa depan. (Adv/FA)
Bagaimana reaksi Anda?